Sunday, October 14, 2018

Hidup Murah Meriah Tapi Tetap Bergairah

Disclaimer: ukuran murah dan bergairah ini berdasarkan standar penulis. Mungkin Mbakyu dan Kangmas, anda semua  menganggap ini masih tetap mahal atau justru sebaliknya, terlalu receh.


Pertamax naik, biaya hidup meningkat. Iya benar, karena kami pengguna BBM non-subsidi. Tapi alhamdulilah sampai sekarang saya masih mendapatkan barang dengan harga murah meriah. Saya juga masih bisa menikmati makan enak, ke restoran fast food minimal sepekan sekali, nonton film 1-3 judul tiap bulan, beli buku, jajan street food enak-enak.

"Terang saja, gaji kalian kalau digabung kan lumayan," kata salah satu teman di kampung. Lumayan kalau tinggal di Kediri, tapi tidak terlalu besar untuk area Jakarta dan sekitarnya. Apalagi saat ini saya sedang menempuh kuliah lagi dengan biaya tiap semester membutuhkan uang seharga Honda Beat. Belum cicilan KPR,  cicilan aset di kampung, dan lain sebagainya. Namun yang penting kan tetap bersyukur, ya tho?

But anyway, ada beberapa cara ngirit yang menyenangkan. Dijamin, ketika kita berhasil melakukannya serasa menang lottery.

1. Listrik Hemat
Percaya tidak, kami hanya menghabiskan listrik Rp 100 ribu hingga Rp 150 ribu per bulan. Padahal, barang elektronik yang kami pakai tidaklah sedikit. Ada televisi, lemari es, mesin cuci, penanak nasi, dua laptop, kipas angin, pompa air, dan peralatan listrik lain yang sering sekali kami pakai, bahkan ada yang setiap hari.

Kami memilih menggunakan listrik pra-bayar untuk mengontrol pengeluaran. Sebagai pengguna listrik non-subsidi --yang pastinya tarif kwh lebih mahal daripada yang disubsidi--,  kunci utama kehematan adalah gunakan seperlunya dan pakai saat kebutuhan banyak. Misalnya kami menggunakan tandon air yang diatur agar mengisi saat benar-benar habis. Jadi pengisianya hanya 2-3 hari sekali. Ini jelas menghemat listrik untuk air hingga 40 persen.

Ini juga berlaku untuk kipas angin, kami baru menyalakan bila cuaca benar-benar panas. Seperti akhir-akhir ini, Bogor yang kota hujan saja terasa gerah. 

Semakin panjang durasi hari dari listrik prabayar Rp 50.000, semakin kencang kami bersorak. Manse!!

2. Pilah pilih lokasi belanja
Untuk trik biaya makan sehari Rp 20.000 untuk dua orang bisa dibaca di sini . Tapi kiranya tips terebut bisa diperbarui dengan cara memilah pilih bahan belanja bulanan.

Untuk produk tertentu, supermarket memang terasa murah tapi tetap saja ada beberapa produk yang lebih miring bila dibeli di pasar tradisional. Setiap bulan sekali, kami pergi ke pasar malam di Jalan Surya Kencana, Bogor. Pasar ini sering menjadi rujukan para pedagang sayur rumahan untuk kulakan.

Tak banyak uang yang kami bawa, biasanya cukup Rp 100.000 untuk setiap kunjungan, sebulan sekali.  Kemarin Sabtu malam (13 Oktober 2018), belanja bumbu dapur ke Surya Kencana. Rencananya, kami akan membuat bumbu dasar merah dan dasar putih sekaligus menikmati kuliner malam di sekitar Kota Bogor.

Ini bukan #100RibuDapatApa challenge ya, hanya kebiasaan rutin. Saya juga tipe orang yang tidak bisa nawar. Kalau tak cocok ya ga jadi beli. Belanja 100 ribu kemarin dapat bawang merah 1/2 kg (10.000), bawang putih 1/4 kg (6000), tomat 1/2 kg (3000), cabe merah cabe rawit campur 1/4 kg (6000),  pisang raja selirang (20000), dan ikan fillet tongkol delapan cup plastik (20.000). Sisanya Rp 15000, untuk kue pukis keju, coklat, dan selai nanas. Kenyang berdua.


3. Selalu ada Kejutan
Jangan terlalu kalap saat melihat diskonan karena akibatnya sering kali membeli yang tak benar-benar diingini. Tapi kalau ada barang yang diinginkan pas diskonan tentu menyenangkan.

Alhamdulilah kami sering mendapatkan ini. Pernah suatu ketika ingin beli novel Crazy Rich Asian sepaket. Eh ada diskonan di Gramedia beli Rp 200 ribu cash back Rp 50.000. Lumayan kan. Ada juga pas waktu merayakan ulang tahun perkawinan, kami ingin makan sampai kenyang. Eh, di restoran cepat saji favorit kami --yang terkenal dengan nasi daging Jepang di mangkok-- sedang diskon. Makanan empat orang hanya seharga Rp 99.000. Kami pulang dengan begah tapi bahagia.

Kejutan-kejutan ini bukan kebetulan semata, tapi karena lebih pada jeli melihat situasi. Misalnya belanja buah. Indonesia terkenal dengan musim buah melimpah di bulan-bulan tertentu. Beli saja sesuai musimnya. Kami pernah 2 pekan makan buah naga ketika harganya saat itu hanya Rp 9000 per kg. Pekan ini kami puas dengan buah mangga harum manis yang cuma Rp 10.900 per kg.

Kalau berkunjung di daerah, atau pulang kampung, harga ini termasuk mahal. Tapi di Jabodetabek dan sekitarnya, jelas murah meriah.

4. Tertib Anggaran
Atur anggaran setelah gajian itu mesti dilakukan. Termasuk saya, freelancer yang gajinya tak tentu tiap bulan. Kadang, dalam sebulan saya bisa mengerjakan tiga proyek sekaligus yang nominal akhirnya bisa 3 kali lipat gaji suami. Tapi kadang kala, kalau lagi seret, harus terpaksa bobol tabungan. Makanya, perencanaan penting.

Separuh dari gaji masuk tabungan dan investasi, 10 persen untuk zakat dan sedekah, dan sisanya keperluan untuk bulanan. Jangan menghabiskan anggaran untuk kepentingan sesaat. Bila takut tabungan habis, ubah menjadi aset yang nilainya tak tergerus seperti emas. Investasi seperti sukuk, ORI, dan lain sebagainya. Tabungan ini selain untuk saat kondisi keuangan sulit tetapi juga tagihan menjelang biaya semeseteran kuliah.

5. Bergaya sesuai kantong
Waktu masih bekerja di majalah perempuan, saya sering menemukan reporter satu grup tapi beda majalah, menghamburkan gajinya yang di bawah saya untuk memenuhi gaya hidup. Mereka membeli tas bermerek yang harganya gaji mereka satu bulan. Untuk makan dan transportasi, mereka mengandalkan orang tua.

Saya memang fashion disaster, dan sering mules ketika melihat harga saat belanja. Tapi ada beberapa tips kalau ingin tetap gaya dengan uang seadanya. Miliki 5 fashion items yang timeless, yakni kemeja putih, celana hitam, celana jeans, cardigan warna netral, dan gaun hitam. Tinggal dipadu padankan dengan aksesoris apapun, akan tetap gaya. Bukan, saya tidak memiliki lima jenis ini karena memang tak peduli dengan segala macam fashion.

Sedangkan gaya nongkrong, sering kali banyak orang memilih makan di tempat yang bagus dilihat dan melihat tak peduli berapa duit mesti dikeluarkan. Setelah itu, puasa makan enak hingga gaji bulanan turun. Daripada seperti itu, mending digunakan untuk mengikuti seminar/pelatihan/workshop pengembangan diri. 

Seminar kayak gini biasanya dilakukan di hotel berbintang dengan makanan melimpah. Lengkap sudah, anda bisa bertemu orang baru, ilmu baru, makanan enak, bagus dilihat dan melihat.

Jadi, siapa bilang zaman sekarang hidup susah. Saya justru menemukan banyak barang-barang yang dulu orang tua kita tak bisa beli, tapi sekarang begitu mudah dinikmati.

Sunday, September 23, 2018

Refleksi Agustus: Islam itu Maju, Bukan Mundur

Disclaimer, tulisan ini sangat subjektif dan berdasarkan pengalaman penulis. 

Awal Agustus lalu, saya sempat berdiskusi dengan suami tentang niat mengikuti acara Tetirah Cirebon akhir bulan nanti. Saya tertarik dengan acara ini setelah sepekan sebelumnya mengalami pergolakan batin atas pertanyaan-pertanyaan yang sampai saat ini, suami pun tak bisa menjawab. Mungkin setiba di Cirebon nanti, saya bisa mendapatkan jawaban, setidaknya tak bingung dan berniat 'lari' lagi.

"Ga apa-apa kamu berangkat ke Cirebon, tapi aku harap rencana luar kotamu dikurangi satu," kata dia.

Bulan Agustus dan September memang banyak 'mbolang'. Setelah mengantar mertua pergi haji awal Agustus, saya memang bertolak ke Surabaya beberapa hari, bertemu teman lama. September, saya dan suami akan pulang kampung bersama menyambut kedatangan mertua dari tanah suci.  Pertengahan September, saya ke Kuantan Senggigi-Pekanbaru, Riau, karena salah seorang sahabat menikah.


"Bagaimana kalau yang ke Riau-nya saja yang dibatalkan," katanya lagi setelah saya menceritakan alasan mengapa Tetirah Cirebon sangat berarti.

"Banyak tenaga dan waktu yang harus dikorbankan,  pekerjaanmu juga bakal banyak yang tersendat kalau terlalu banyak keluar kota,"

Akhirnya, saya pun mengurungkan niatan ke Cirebon akhir Agustus lalu.

**

Bagi saya, niatan pergi ke Cirebon penting untuk menjawab pertanyaan mengapa Islam yang saya kenal dari beberapa orang terdekat justru membuat berjalan mundur. Mungkin bagi orang lain, itu bentuk kepasrahan, tapi pikiran saya malah menunjukkan ketertinggalan. Berikut ini ucapan-ucapan yang membuat dahi saya mengernyit keheranan.

"Perempuan itu masuk surga gampang, cukup manut dengan kehendak suami. Manut saja, surga lho, Ndar" kata salah seorang sahabat setelah melihat saya menolak saran suami untuk menggunakan jaket di siang hari lantaran terlalu gerah.

"Bahkan ketika istri menjilat nanah suami, tetap saja dia tak bisa membalas pengorbanan suami," kata ustadz yang berdakwah di Radio Samara Tulung Agung, mengutip Hadis Riwayat Ahmad.

Tak hanya seksis, anjuran ini seolah memaksa perempuan menuhankan suami masing-masing. Dan saya menolak itu, karena saya hanya percaya Allah melebihkan satu dari yang lain bukan yang satu punya kelebihan yang lain tidak. Artinya masing-masing mempunyai kelebihan dari yang lain (Shihab, 2005)

Salah seorang teman mengatakan perempuan hendaknya mengizinkan suami poligami bila suaminya baik. Karena suami itu bukan milik istri, dan sayang sekali laki-laki unggul tidak dimanfaatkan untuk menciptakan  bibit-bibit unggul lainnya.

Saya nyaris tersedak mendengar ucapannya. Ingin saya mengatakan, kalau begitu, berarti suami tak boleh memaksa istri hanya di rumah kalau istrinya mempunyai kemampuan yang sangat bermanfaat bagi umat. Sayang sekali perempuan unggul hanya dipingit di dalam rumah. Kalau kuantitas dihitung, harusnya aktivis-aktivis perempuan yang berguna bagi orang banyak lebih mulia dibandingkan ibu rumah tangga saja.

Topik terakhir menjadi diskusi saya dengan suami sebelum menikah. Dan kami sepakat, perempuan tak boleh terkungkung di rumah ketika dia mempunyai manfaat bagi orang banyak. Baik laki-laki maupun perempuan, semakin dia bermanfaat bagi orang banyak, maka akan semakin baik.

Ini baru percakapan pribadi dengan sejumlah orang-orang terdekat. Belum lagi pergolakan batin setelah kebijakan pemerintah daerah terkait pembatasan. Beberapa qanun di Aceh justru mengkriminalisasikan perempuan. Perempuan dilarang keluar malam, makan di warung sendirian, dan lain sebagainya. Ini salah satu beritanya qanun untuk perempuan , tentu masih banyak cerita yang lain.

Bagi saya, qanun-qanun seperti ini justru membuat Aceh mundur ke belakang. Masih ingat, ketika RA Kartini perlu berteriak lewat surat ke pemberharu Belanda karena perempuan Jawa didomestifikasi, perempuan-perempuan Aceh justru sudah berani angkat senjata karena peraturan di sana kala itu memandang perempuan setara dengan laki-laki.

Tak perlulah disebutkan satu persatu pahlawan perempuan dari bumi Serambi Mekah. Tapi kiprah para heroine dari Aceh ini sudah tak diragukan lagi.

Simak tulisan cicit Tjut Meutia yang saya kutip dari sini Indonesiana

"....sejarah pernikahannya. Cut Meutia tercatat menikah tiga kali. Pernikahan pertama dengan Teuku Syamsarif adalah hasil perjodohan—hal yang lazim dalam adat istiadat Aceh di kalangan bangsawan pada saat itu. Namun, suami pertamanya itu lebih condong dan kooperatif dengan Belanda. Cut Meutia tak suka, sehingga perceraian tak terelakkan. Cut Meutia kemudian menikah dengan adik mantan suami pertamanya, yakni Teuku Muhamad, atau yang lebih dikenal sebagai Teuku Cik di Tunong. Suami keduanya anti Belanda dan aktif berjuang melawan pendudukan Belanda....

...Cut Nyak Meutia adalah perempuan cerdas dan tangguh. Dia bukan tipe perempuan yang hanya bertindak di belakang layar (misalnya, ‘cuma’ mengatur strategi atau mengurus anak atau logistik di garis belakang), tapi dia juga aktor utama dalam pertempuran di garis depan, yang tak kalah vital perannya bagi moral pasukan--

--Selama Cut Meutia hidup di hutan, literatur yang saya baca menyebutkan, Teuku Raja Sabi, putera semata wayangnya, diasuh dan dibesarkan oleh para lelaki maupun perempuan dalam pasukan pimpinan ibunya. Mulai dari ulama yang menjadi guru mengaji hingga guru bela diri.  Jadi, kalau jaman sekarang, ibu-ibu lain pamit berangkat kerja, pergi mengaji atau berdagang, Cut Nyak Meutia pamit untuk pergi berperang. “Dan jika Ibu tak kembali, tugas kamu selanjutnya melanjutkan perjuangan kami,” begitulah senandungnya ketika menidurkan anak tunggalnya itu""

Dari situ kita belajar bahwa di Aceh, saat itu, perempuan dan laki-laki tak hanya mempunyai kedudukan setara tetapi juga tentang kerja kolektif. Teuku Raja Sabi dibesarkan secara kolektif baik oleh perempuan maupun laki-laki. Di banding Jawa, konsep ini tentu lebih progresif dibanding Jawa saat itu di mana perempuan hanya konco wingking, surga nunut neraka katut. Tentu di sini, saya tak berbicara tentang para ibu suri di kerajaan Jawa yang menjadikan anaknya sebagai raja boneka karena itu preseden.

Nah, bila di abad 17-19, Aceh demikian berpikiran terbuka, mengapa saat ini justru mundur terbelakang? Qanun pembatasan kiprah perempuan justru diagung-agungkan, namun luput mengawasi persoalan korupsi dari para pemangku kebijakan dan pembangunan yang lebih inklusif.

Sebagai informasi, indeks pembangunan inklusif di Aceh masih di bawah nasional. Provinsi ini  masuk dalam 10 besar yang indeksnya terendah. Pertumbuhan ekonomi, pemerataan pendapatan dan pengurangan kemiskinan, serta perluasan akses dan kesempatan di sana jauh lebih rendah dibanding provinsi lain. (Sumber data bisa dijapri ke saya).

Apakah benar karena penerapan hukum Islam di sana menyebabkan Aceh sedemikian mundurnya? Padahal seperti yang kita ketahui, Aceh saat kiprah laki-laki dan perempuan setara, menjadi kerajaan Islam yang kaya.

Itu baru satu kasus, belum lagi contoh lain yang justru membuat saya berpikir apakah benar Islam yang sebenarnya seperti ini dan saya harus tunduk dengan tafsir seperti demikian. Benarkah Tuhan menciptakan wujud perempuan sebagai aspek yang di sub-dominasikan? Pandangan ini jelas sulit diterima nalar saya.

Nah, alasan inilah yang membuat saya ingin mengikuti Tetirah Cirebon. Saya menganggap ulama-ulama dari sini begitu progresif dan mempunyai pemikiran yang terbuka. Bayangkan, saat ustadz-ustadz lain sibuk menyerukan nikah muda, poligami, dan fokus pada mewujudkan konsep perempuan yang ideal dengan fokus pemoralan perempuan, ulama-ulama di Cirebon sudah  membicarakan tentang pentingnya pendidikan perempuan, perlawanan terhadap kekerasan seksual, pembatasan pernikahan usia anak, advokasi buruh migran, pembangunan desa, peran mengatasi krisis dan konflik kemanusiaan, sampai melawan pengrusakan alam.

Pandangan-pandangan ini membawa oksigen bagi saya. Begini lho, Islam itu maju melebihi zaman. Tetirah Cirebon, saya dengar, membahas tentang peran perempuan pada masa awal Islam  yang cukup signifikan dalam keberlangsungan komunitas Muslim dengan menjaga mata rantai transmisi tentang kehidupan Nabi saw. Namun sungguh ironi ketika para muhadditsin tidak mempermasalahkan gender dalam periwayatan hadits, tapi generasi berikutnya justru seolah menghalangi perempuan dalam meriwayatkan hadits. Alhasil, peran perempuan semakin lama semakin berkurang dan berujung pada aturan yang timpang sebelah.

Dan mari kita lihat, bahwa nyatanya Islam sangat maju, terutama terkait keperempuanan, di tengah budaya Arab saat itu. Berikut ini sebuat tulisan yang diamini sesuai dengan pemikiran saya. Tak membuat kalimat sendiri, tulisan di bawah ini persis dengan pemikiran saya.

"... Ya, memang benar, kesaksian perempuan pada zaman Nabi ‘hanya’ diberikan bobot setengah dari kesaksian laki-laki. Namun perlu dicatat, sebelum agama Islam datang, kesaksian perempuan sebelumnya sama sekali tidak dianggap.

Ya, memang benar hak waris anak perempuan pada zaman Nabi ‘hanya’ dihitung setengah dari hak waris anak laki-laki, namun perlu digarisbawahi, sebelum agama Islam datang, anak perempuan bahkan tidak mempunyai hak waris sama sekali.

Ya, adalah benar poligami diperbolehkan oleh Nabi dengan batasan 4 orang istri, namun mohon juga dicermati bahwa sebelum agama Islam datang, seorang perempuan dapat ‘dimiliki’ dengan jumlah yang tidak terbatas oleh suaminya.

Catatan-catatan sejarah di atas mungkin baru sedikit dari sekian banyak catatan perbaikan yang dibawa oleh Nabi lewat ajaran agama Islam. Adalah tidak adil jika kita tidak menganggap sekian banyak torehan catatan sejarah tersebut sebagai bentuk pergerakan menuju kebaikan yang diperjuangkan oleh Nabi lewat ajaran agama Islam.

Apakah kondisi perempuan muslimah zaman Nabi lantas dianggap sudah sempurna? Jika kesempurnaan hanyalah milik Allah, proses menuju sempurna adalah ikhtiar umat manusia. Alih-alih bersikap apologetic, maka tantangan yang dihadapi Islam dalam menjawab pertanyaan terkait kedudukan dan peranan perempuan di dalamnya harus dihadapi dengan kritis dan terbuka. Dengan berani memilah nilai-nilai Islami mana yang bersifat transendental, mana yang bersifat temporal. Mana yang merupakan peninggalan tradisi kebudayaan Arab, mana yang merupakan esensi moral dari Islam itu sendiri..."

Seperti penulis, saya juga berandai-andai jika Nabi Muhammad dianugerahi usia lebih panjang oleh Allah, mungkin lebih banyak revolusi kebijakan yang menyangkut perempuan. Saya yakin, kedatangan Muhammad lebih dari sekadar mengusik ajaran lama tapi melawan dominasi yang sudah nyamanmenindas saat itu, majikan terhadap budaknya, laki-laki terhadap perempuan, pemilik modal dan pekerjanya, dan penindasan lain dari manusia terhadap manusia.

Bolehkah saya meyakini, yang ingin Nabi Muhammad tiada, bukan hanya musuh yang berbeda agama tetapi juga orang-orang Muslim yang melanggengkan status quo di peradaban Arab saat itu.

Akhirnya, saya bisa tidur nyenyak hari itu dan tak jadi 'berlari'.

Sunday, September 16, 2018

Riau dan Pikiranku yang Terbalik

"Riau ini luar biasa ya.." gumanku.


Tulisan ini bukan tentang how to go to Riau --karena semudah buka aplikasi Traveloka--, atau bagaimana tinggal di Riau. Tulisan ini tentang kesan parsial setelah tiga hari berada di Riau, jadi serba subyektif dan tak tertstruktur.

Bermula dari undangan sahabat yang akan melangsungkan pernikahan. Dia seorang dosen Universitas Islam Riau --iya, kampus yang presiden BEM-nya demonstrasi turunkan Jokowi itu-- dengan jurusan kriminologi. Rumahnya di Kuantan Sengigi (Kuansing), namun kami diinapkan  di Pekanbaru.

Pernikahannya berjalan lancar. Aku belajar banyak tentang upacara adat perkawinan ala Kuansing. Mulai penjemputan pengantin perempuan ke rumah pengantin laki-laki sebelum akad hingga tradisi kerabat pengantin menari bersama membentuk linggkaran. Menyenangkan.

Tapi ada yang menarik dicermati di luar upacara pernikahannya. Selama tiga hari di Riau, dan mayoritas di Pekanbaru, kota ini gabungan antara Tengerang Selatan, Balikpapan, dan Menteng Jakarta.

Di pusat bisnis dan pemerintahan, dekat patung Tari Zapin Melayu, suasana mirip Jalan Diponegoro Menteng, Jakarta. Jalan lebar dua arah. Kanan kiri perkantoran dengan warna tembok putih. Aku takjub dengan rumah dinas Gubernur Riau. Halamannya luas, dengan atap khas lancang kuning. Di malam hari, rumah dinas ini nampak berkelip dihiasi lampu-lampu warm white. Kurang dari 1 km, ada kantor gubernur.


"Apa gubernur jalan kaki?" tanyaku.

"Ya tidak, mbak, pakai kendaraan sendiri."

Di malam hari, area ini menjadi tempat berkumpunya anak muda. Aku temui gerombolan anak muda mengendarai motor tanpa helm.

"Tengah malam, tempat ini jadi lokasi balap motor paling ngehits di sini."

Tak jauh dari tempat itu, ada Masjid Agung An -Nur Pekanbaru. Jujur, aku lebih menikmati masjid ini dari kejauhan daripada jarak dekat. Kubah warna toska-nya menjulang tinggi. Menara-menara di empat sumbu di setiap kutubnya. Kolam air terhampar di depan masjid. Sekilas mirip Taj Mahal.


Puas hati berfoto bersama, kami menyantap kerupuk mie --kegiatan ini Ahad pagi ya. Semacam kerupuk singkong yang dibuat lingkaran dengan diameter 15-20 cm, orang Jawa menyebutnya sermier. Di atas kerupuk itu, ditaruhlah bihun dengan kuah bumbu sate padang. Rasanya pedas dan mengenyangkan. Cara makan dengan kerupuk mengingatkanku akan pecel semanggi Surabaya.
Enak mana? Lidah Jatim saya mengatakan, jelas enak pecel semanggi. Tapi penyuka mie aceh atau makanan Padang pasti suka dengan rasanya.

Saat menyantap kerupuk mie, mata saya terserobok dengan spanduk #GantiPresiden2019 yang ditempelkan di tembok area masjid.

Selain bernuansa Menteng, ada tempat konkow anak muda di sekitar Paus Ujung yang serasa di Tangerang Selatan. Alias tempat ngumpul banyak. Lampu tidak seterang Jakarta tapi kendaraan padat. Di sini aku bertemu dengan beberapa teman lama. Obrolan kami membuat aku ingat, kalau Gubernur terakhir, sebelum yang saat ini menjabat, semua tertangkap KPK.

Hattrick!! Selamat ya Riau.  Luar biasa, bagaimana mungkin kita bisa melakukan kesalahan yang sama hingga tiga kali.

Luar Pekanbaru, Kesenjangan Pembangunan?

Dua hari pertama di Riau, aku menjalani ritual siang jam 11 pergi ke Kuansing, jam 7 sore sampai lagi ke Pekanbaru. Keluar masuk Pekanbaru-Kuansing yang jaraknya ditempuh 3,5 jam bukan ukuran Jakarta, tentu aku sudah kenyang dengan pemandangan.

Kiri kanan, kulihat saja, banyak pohon sawit di mana-mana. Ditambah jalan yang berkelok, saya khawatir nanti Xenia yang ditumpangi menjadi rongsok. Mahasiswa yang menjadi sopir kami begitu semangat mengendarai, sampai-samapi kami yang di kursi penumpang, terpelanting hingga kepala terantuk langit-langit mobil. Anak muda, bisakah pelankan setiranmu?!

Meski bersusah payah menjaga keseimbangan, saya sempat mengamati kondisi di sepanjang perjalanan.

"Itu calon jembatan baru?" tanyaku kepada mahasiswa yang menyopiri kami ketika melihat beberapa tiang pancang yang tegak berdiri di aliran sungai Kampar.

"Bukan, Bu, itu yang tidak jadi dibangun," jawabnya. Bagus, Nak, panggil saja aku ibu, biar sadar usia.

"Kasus korupsi kah?" tanya teman saya.

"Kurang tahu, Bu,"

Teruskan, biar para ahjumma-ahjumma ini sadar diri kalau akhir 20-an atau awal 30-an itu sudah usia senja.

But, anyway, selain hutan sawit dan jembatan yang urung selesai itu, ada suasana yang berbeda dari Ibukota Riau sepanjang jalan Pekanbaru-Kuansing. Di malam hari terasa gelap karena tanpa penerang. Jalan nampak mulus tapi nyatanya bergelombang saat dilewati. Beberapa rumah  berdinding kayu, ada pula yang bambu.

Sementara lawan kami ialah teman-teman optimus prime yang menyaru jadi pengangkut sawit. Untungnya tak semenyebalkan angkot di Bogor (ditungguin malah berhenti, disalip malah ngegas) melainkan tak segan melaju kencang. Saya khawatir di tengah jalan berubah menjadi transformer dan melakukan pertempuran di pinggir tebing. Lebai!

Kondisi ini mengingatkanku pada daerah Indonesia timur. Tapi seingatku, ibu kota provinsi di Indonesia timur tak semegah Pekanbaru.

"Di sini cari bensin mudah kah?"

"Susah, Bu, sering kehabisan, apalagi premium?"

"Ada angkot atau transportasi umum kah?

"Tidak ada Bu, paling cuma Superband, itu pun jarang,"

APBD Riau tahun 2018 sebesar Rp 10 triliun sedangkan APBD Jawa Timur 30 triliun. Kira-kira bisa tidak, capaian pembangunan Riau, sepertiga Jawa Timur saja. Harusnya sih bisa.

Menurut Indeks Pembangunan Ekonomi Inklusif yang dibuat oleh Bappenas (Saya punya hasilnya untuk seluruh  Indonesia di tahun 2007. Kalau berminat japri saja). Indeks Pembangunan Ekonomi Inklusif Riau jauh di bawah nasional. Di luar Pulau Jawa dan Bali, Riau masih kalah dibanding Sulawesi Utara atau pun Kalimantan Tengah. Riau hanya lebih baik dari pada 0,05 poin dari provinsi terbungsu Kalimantan Utara. Tapi dia lumayan baik dibanding Aceh, Papua, Papua Barat, Maluku, dan mayoritas Indonesia timur lain.

Mendiami Riau sekitar tiga hari menghasilkan syukur di hati. Beruntung, aku tinggal dan besar di Jawa Timur. Aku tak perlu setangguh penduduk di sana menghadapi medan yang menantang dan pengabdian setengah hati. Setidaknya aku tak perlu susah payah bersabar.

Wednesday, August 1, 2018

#sahabatkeluarga : Pendidikan Literasi Media dari Rumah



Membaca artikel berjudul " Mempersiapkan Generasi yang Cerdas Digital"  di laman resmi Sahabat Keluarga Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (https://sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id/laman/index.php?r=tpost/xview&id=4899) membuat saya terinspirasi bahwa pendidikan literasi media sangatlah penting untuk anak-anak di masa kini. Adanya teknologi komunikasi memudahkan orang mengakses internet dan mendapatkan informasi dari dunia maya. Tak hanya orang dewasa, anak-anak dan remaja leluasa berselancar dan bertemu di ranah online yang acap kali tanpa pantauan orang tua. Inilah yang menjadi tantangan kekinian dalam hal mendidik dan mengajar anak-anak di era milenial dan serba digital seperti sekarang.

Dilansir dari penelitian Kaspersky Lab dan B2b International, satu dari 10 anak atau 12 persen anak di bawah umur 18 tahun mengalami kecanduan internet. Masih dari sumber yang sama, 44 persen anak-anak menghadapi paling sedikit satu ancaman saat sedang online. Satu dari sepuluh anak pernah mengakses konten yang berbahaya dan tak sesuai umur.


Konten yang beredar di dunia maya beragam dan patut diwaspadai. Tak hanya yang berbau pornografi dan kekerasan, isu hoax dan ujaran kebencian terhadap kelompok lain yang berbeda juga mudah menyebar.


Karena itulah, langkah yang mesti diambil orang tua agar anak tidak terpapar hal buruk di dunia maya adalah edukasi. Salah satunya dengan literasi media atau cara mengonsumsi media dengan cerdas. Pendidikan literasi media tentunya bertujuan memastikan anak-anak siap berinternet secara bertanggungjawab.


Menurut James W. Potter (2005), literasi media bisa menjadi semacam perangkat perspektif di mana khalayak bisa aktif memberdayakan diri sendiri dalam menafsirkan pesan-pesan yang diterima dan bagaimana mengantisipasinya. Literasi media sering diartikan sebagai cara cerdas mengonsumsi media, baik media sosial maupun media mainstream. Masyarakat diajak untuk dapat memahami bahwa informasi yang diterimanya bukanlah kebenaran yang bulat.


Sejatinya, literasi media merupakan pendekatan pendidikan yang tepat di abad 21 ini melihat adanya kemudahan mendapatkan informasi dari pelbagai bentuk media. Literasi media menyediakan kerangkan kerja untuk mengakses, menganalisis, mengevaluasi, dan berpartisipasi dengan pesan yang disampaikan melaui media massa. Literasi media membangun pemahaman tentang kerja media dan pengaruh media di masyarakat. Artinya, liretasi media membuat masyarakat lebih melek media.


Dengan pendidikan literasi, anak-anak diajari cara mengonsumsi media massa dan berselancar di dunia maya yang benar. Tak hanya sekadar didampingi saat mengakses internet tetapi pendidikan literasi mengajarkan anak memilah memilih kabar secara tepat dan sebaliknya tak gampang membocorkan informasi pribadi di media sosial. Tentu saja, pendidikan literasi media membutuhkan peran kolektif orang
  tua dan guru sebagai pengawas dan role model sehari-hari.


Orang Tua Tak Selalu Tau


Orang tua pasti sudah mahfum bahwa informasi yang ada di internet tak selalu tepat. Namun masih sedikit orang tua yang paham bagaimana cara memilih media yang benar. Orang
 cenderung memilih media yang mempunyai informasi yang  dia sukai, bukan media yang terakreditasi dan sesuai etik. Mereka berkilah media yang tak menulis sesuai keinginanya itu tidak netral dan memuat berita untuk melayani pemilik atau bahkan penguasa.

Data Dewan Pers tahun 2017 mencatatkan, ada 43.300 media  online di Indonesia saat ini namun kurang dari satu persen  yang dinyatakan terverifikasi. Media online yang tak terverifikasi sering kali menghasilkan produk yang tak memenuhi kode etik jurnalistik. Media ini menyajikan informasi sensasional untuk menarik pembaca. Judul yang click bait (jebakan klik) tanpa disertai isi yang sesuai. Berita itu kemudian disebarkan melalui media sosial dan menjadi perdebatan di ranah publik. Alih-alih memberikan pencerahan, banyak orang yang percaya informasi palsu atau hoax kemudian berujung pada ujaran kebencian terhadap kelompok lain.


Lantas bagaimana mungkin orang tua mampu mengajarkan pendidikan literasi kepada buah hatinya bila dia sendiri tak tahu cara mengonsumsi yang tepat?


Berbicara mengenai literasi media, ada seperangkat alat yang bisa digunakan untuk menilai baik buruknya sebuah berita. Bila informasi itu berasal dari televisi, regulasinya ialah Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran milik Komisi Penyiaran Indonesia. Sedangkan jika informasi itu berasal dari media massa, standarnya mengacu pada aturan Dewan Pers, UU Pers, dan kode etik jurnalistik. 


Masyarakat perlu mencerna informasi berdasarkan regulasi-regulasi yang telah ada. Apakah berita itu berasal dari media yang terpercaya? Apakah si jurnalis turun langsung ke sumber berita atau mengutip dari media lain? Tentu saja tak ada media yang benar-benar independen, tapi apakah media tersebut sudah menerapkan
cover both side, menampilkan pendapat kedua belah pihak yang bertentangan?

Bagaimana bila informasi tersebut menyebar dari individu-individu di media sosial? Tentu saja proses menelaah membutuhkan waktu tak singkat. Netizen perlu menggali lebih lanjut apakah penulis merupakan sumber utama atau hanya sekadar penyebar saja. Hindari akun tak jelas identitasnya. Jika pun itu mengaku korban atau saksi kejadian langsung, ketahui keterangan dari pihak yang berseberangan sebelum menyebarkan ke media sosial. Dengan demikian, kita mendapatkan informasi dari dua sisi.


Kepakaran juga perlu diperhatikan. Misalnya saat membicarakan perang saudara di Suriah, pakar resolusi konflik atau hubungan internasional tentu lebih patut didengar daripada seorang dokter yang merupakan selebtwit atau selebgram dengan jumlah follower bejibun. Orang tua yang peduli dengan pencarian informasi seperti ini tentu lebih mudah mengajari anak tentang bagaimana mengonsumsi media yang tepat.



Kurikulum Pendidikan Berbasis Literasi Media


Sejatinya, wacana tentang pendidikan literasi media bukanlah barang baru. Banyak pakar komunikasi yang telah membahas mengenai pendidikan literasi media namun tak berhasil membumi di kalangan masyarakat luas. Ide tentang pendidikan literasi media hanya sebatas diskusi kelompok akademisi belum berhasil dikampanyekan melalui media yang bisa menjangkau di akar rumput. Berharap pada media massa konvensional tentu sulit karena akan mengubah kebiasaan mereka memproduksi berita dan informasi.


Solusinya adalah memaksakan pendidikan literasi media melalui kurikulum sekolah sehingga dapat diterima anak didik secara formal. Upaya ini tak serta merta berhasil dalam waktu singkat, butuh waktu agar khalayak mampu mengonsumsi media secara kritis dan bijak. Publik di negara maju sudah paham dengan literasi media karena telah diajarkan sejak puluhan tahun sebelumnya.
  Eropa sudah mengajarkan literasi media sejak tahun 1930-an. Sementara warga Amerika mulai belajar  pada tahun 1970-an.

Kerja kolektif antara contoh sehari-hari orang tua di rumah dan kurikulum formal yang dipandu guru di sekolah menjadi solusi terbaik mengajarkan pendidikan literasi media kepada anak. Sejalan dengan yang disampaikan Ki Hajar Dewantara “Setiap orang menjadi guru, setiap rumah menjadi sekolah.”


#SahabatKeluarga #MediaLiterasi


Sunday, July 29, 2018

Ulasan Makanan: Martabak Arang Aphin di Bogor, enak sih tapi...

(Warning: mengandung curhatan) 


Sebagai tim martabak manis (terang bulan), kurang lengkap rasanya mencoba martabak-manis yang tersohor di Bogor. Awal bulan lalu, kami sudah mencoba martabak manis Air Mancur dan rasanya enak tak kemanisan meski kejunya porsi cukup. Adonanya lembut dengan harum aroma minyak samin. 

Karena suami tim martabak telur, besoknya langsung beli dan rasanya gurih dan dagingnya empuk meski tak setebal martabak telur Orins. Baiklah, tapi ini tak kalah lezat dan tetap cocok jadi lauk nasi. 

Sebelum mengulas martabak Aphin, mau disclaimer dulu bahwa aku mencoba seobjektif mungkin terlepas kejadian tak mengenakkan di gerainya. Sebagai contoh, meski cebong, aku kurang cocok dengan Markobar-nya Gibran Rakabuming. 

Markobar punya topping yang terlalu manis padahal hidupku kan sudah manis. Jadi buat apa makanan yang terlalu manis?!

Nah martabak Aphin ini sebenarnya opsi kedua karena martabak Encek Suryakencana belum buka dan kami mesti segera bergegas dengan urusan lain. Padahal sejak berbulan-bulan lalu, kami luar biasa penasaran ketika melihat antrian rombong martabak di pojokan yang begitu mengular. 

Berbeda dengan biasanya, Martabak Encek menggunakan arang sebagai bahan bakar.  Kemarin (28 Juli 2018), kami berencana membeli Martabak Encek. Sampai sana sekitar pukul 12.00 siang dan ternyata baru buka 14.00. Mau belanja bulanan dulu tapi takut kehabisan. 

Opsi lain martabak yang menggunakan arang adalah Martabak Aphin. Martabak Encek dan Martabak Aphin sama-sama berdiri sejak puluhan tahun dan asli Bangka. Melipir lah kami ke sana. Toh jaraknya tidak jauh. 

Sampai gerai Martabak Aphin Jalan Padjajaran sekitar pukul 12.30 dan ternyata belum beroperasi. Tampak pegawai masih bersiap-siap. 

Saat menghampiri gerai, tak ada pegawai yang menyambut. 

"Setengah jam lagi," teriak pegawai dari dalam ruangan. 

Akhirnya kami menunggu di bangku besi bawah pohon depan gerai. Perut sudah keroncongan karena lupa sarapan. Nampaknya perlu bersabar beberapa, semoga penantian tidak mengecewakan. 

Sekitar 15 menit kemudian, seorang ibu datang dan seorang pegawai perempuan menghampiri dan menuliskan pesanannya. Sontak suami langsung berdiri kaget karena yang dilayani terlebih dahulu malah sang pembeli baru. Segera suami menuju pegawai menyebutkan pesanan kami. 

Pegawai lain bergegas menata kursi plastik yang sedari tadi tertumpuk depan kasir. Siapa tahu ibunya mau duduk cantik di situ. Sementara kami, biarlah tetap di bangku besi reot.

"Saya tunggu di mobil saja, nanti dihantar ke sana ya," kata ibu segera berlalu. 

Aku mulai jengkel, kok pembeli baru yang lebih dulu dilayani. 

"Sebenarnya adonan belum siap, tapi ibunya keburu datang," kata suami menenangkan. 

Sepuluh kemudian, pegawai menghantarkan pesananya ibu ke mobil depan gerai. Kami kembali kaget, kok lebih dulu pesanan pembeli baru yang dilayani. Bergegas suami menanyakan pesanan ke pegawai laki-laki yang pertama kali ketemu waktu datang tadi. 

"Sudah pesan belum?" tanyanya sembari berteriak. 

"Sudah, saya juga sudah bayar," jawab suami. 

Sumpah, maksude iku lho opo? Kami sudah menunggu dari jam setengah 12 tadi lho. 

Selang beberapa menit, pesanan kami datang. Kami memesan martabak terang bulan dengan topping separuh keju separuh coklat kacang. Harganya Rp 75.000. Konon lebih mahal daripada Martabak Encek.

"Mbak, lain kali yang datang duluan tolong dilayani lebih dulu ya," kataku. Pegawai itu cuma nyengir kuda, ucapan maaf pun tak ada. 

Fiuh... Semoga rasanya setara dengan harga dan jengkelnya.

Karena Martabak Aphin tidak menyediakan ruang untuk makan di tempat, kami berlalu menuju toko swalayan , langganan belanja bulanan. Panas, lapar, dan rute Jalan Padjajaran-Yasmin Bogor yang macet, rasanya pengen ngamuk. 

"Makan aja dulu," kata suami. 

Gimana mau makan di atas motor? Pinggir jalannya juga ga enak. Sudah langsung saja. 

Sesampainya di L*******t Wholesale, kami langsung makan martabak sembari menunggu makanan datang. Rasanya, enak sih tapi tak ada bedanya dengan martabak biasa, lebih enakan Air Mancur malahan. 

Martabak Aphin ini memang lembut, coklatnya tak terlalu manis, dengan keju yang pas. Beli siang, makan habis magrib dan sudah masuk kulkas juga masih bagus. Cuma kalau dibanding Orins dan Air Mancur masih kalah walau aromanya lebih menggoda Aphin. 

Jadi, balik lagi atau tidak? Tentu saja tidak, selain ada yang lebih cocok di lidah juga tak mau mengulang pengalaman yang sama. Next, nanti mencoba Martabak Encek yang legendaris itu. 

Silakan mencoba ke sana, mungkin pengalaman dan lidahnya kita berbeda.
Foto: Diambil dari Pergikuliner.com, kelupaan foto gerai dan martabaknya 

Monday, May 14, 2018

Silakan Mencaci Tapi Jangan Lupa Membuka Hati #SuroboyoWani



Hari ini, di toilet kantor bilangan Senayan, saya menangis tergugu. Bom Sarinah di Jakarta, peristiwa Mako Brimob pekan lalu, hanya membuat saya marah sekaligus mengutuki para pelaku. Tapi Bom Surabaya ini beda, hati mencelos dan merana luar biasa.

Surabaya, serasa jadi rumah kedua sebenarnya setelah Kediri, bukan Jakarta tempat mencari nafkah. Bukan pula Bogor, di situ kami bertempat.

Alasan mengapa Surabaya selalu di hati sebagian sudah saya tulis di laman facebook. Namun lebih dari sekadar itu, Surabaya mematangkan seorang Ndari dari yang mentah di Kediri menjadi jauh lebih berkarakter. Di Surabaya, saya belajar bahwa atribut itu bukan masalah tapi roh di dalamnya yang lebih penting. Saya berteman dengan banyak orang mulai dari yang ber-rok mini hingga yang hanya terlihat mata saja.

Doesnt matter who you are, your religion, ethnic, tribe, the color of your skin, your gender, what choice you follow,  we're all human beings. Terserah apapun atribut yang disandang, dahulukan manusianya, manusianya. 


Pandangan-pandangan inilah yang membuat saya lolos seleksi keempat Tempo (dari 8 rangkaian seleksi). Waktu itu sang pewawancara, yang akhirnya saya ketahui bernama Mbak Ninil (Widiarsi Agustina)--ternyata kita mempunyai habitat asal yang hampir sama dan kelak dia menjadi salah satu mentor saya--bertanya. "Tanggapanmu tentang kasus penyerangan Ahmadiyah Cikeusik gimana?"

"Secara pribadi, saya tidak sepakat dengan keyakinan umat Ahmadiyah. Namun ketidaksepakatan itu bukan berarti saya setuju dengan kekerasan yang ditimpakan oleh mereka. Bagaimanapun, setiap orang di negeri ini berhak hidup, mendapatkan pekerjaan yang layak, pendidikan, akses kesehatan, dan fasilitas umum lainnya. Jadi saya mengecam tindak kekerasan terhadap umat Ahmadiyah dan berharap pelaku mendapatkan sanksi yang seadil-adilnya."

Jawaban itu berlaku juga untuk LGBT, Syiah, atau bagi kamu "hai mbak/mas yang merasa saya terlalu liberal dan patut dimusuhi. Its okay, itu hakmu." Saya bukan Tuhan yang berhak menghakimi menentukan surga neraka seseorang. Coba saya tidak pernah singgah di Surabaya, mungkin tidak akan belajar apa itu yang namanya toleransi dari orang-orang di sana.

Kisah lain, di Surabaya, saya banyak bertemu dengan orang-orang baru. Senior-senior yang menganggap saya seperti adik mereka sendiri sampai turut campur urusan hati atau pacar. "Opo'o koen, jadian ambek arek iku? Ga onok sing luwih apik tha?" salah seorang senior --sebut saja Xiemen, bukan nama sebenarnya-- yang menanyakan kenapa saya mau pacaran sama adik lettingnya di jurusan. Dan, sepekan kemudian, kami putus. Salah satu faktornya karena pertanyaan itu, faktor lain karena ada yang menurut saya lebih baik.

Teman-teman lain, banyak juga, yang sering mengantar  pulang usai rapat atau cangkruk di Cak Di, mengantarkan ke Bungurasih jam 2 pagi. Sampai sahabat-sahabat (Dkolingkerz, dll) yang menguatkan saya saat ibu meninggal. Bahkan di saat saya tak bisa cerita, mereka selalu punya cara untuk mengoreknya.

Jadi ketika Surabaya dua hari ini dihantam teror bom bertubi-tubi, hati saya yang luluh lantak. Seorang adik letting nyaris menjadi korban bila dia tidak bangun kesiangan dan terlambat pergi ke gereja. Alhamdulilah, tak ada korban dari orang-orang yang saya kenal. Tapi bukan berarti saya bisa bernafas lega.

Korban jiwa melayang dan sejumlah orang luka-luka. Naasnya lagi, teroris itu membawa anak-anak kecil, menyabukkan bom di perut buah hati mereka sendiri. Bagaimana mungkin orang tua setega itu?

Belum tuntas rasa perih, luka ini seolah dikucuri jeruk nipis ketika membaca sejumlah orang mempertanyakan kebenaran teror bom Surabaya.

"Ya Allah, mengapa Islam difitnah lagi," ujarnya

Wait, jengah, tidak ada lho yang memfitnah Islam. Bahkan sejumlah orang berusaha meluruskan bahwa Islam yang benar tidak seperti itu. Seorang Ketum PP Muhammadiyah Haedar Nashir mengutuk peristiwa itu --bila kecaman dari petinggi NU tetap membuatmu bergeming, saya carikan yang lain. Lha kowe iku sopo? Bukankah lebih baik mengampanyekan tafsir Islam yang rahmattan lil alamin, bahwa Islam pembawa kedamaian, Islam yang rahman dan rahim.

Ada lagi seorang teman di facebook yang memasang youtube dengan giringan kalau keluarga pelaku pengeboman itu adalah kafir yang menyaru muslim. Berhubung tidak kenal dekat, seketika saya unfriend.

Bukankah sebelum mengunggah sebaiknya mencari informasi terlebih dahulu. Keluarga ini merupakan mantan 'mujahid' pendukung ISIS yang pulang kampung ke tanah air. Mereka telah mendapatkan pendidikan soal teror dan sistem sel. Jadi masih bilang ini bukan orang Islam meski tafsir soal jihad mereka yang salah. Para WNI alumni ISIS ini jumlahnya ratusan (Baca beritanya di sini: WNI Pendukung Isis). Mestinya ini yang kita waspadai dengan cara merapatkan shaf.

Jadi alih-alih mengutuki kegelapan, bukankah sebaiknya menyalakan lilin. Daripada merasa didholimi bukankah lebih baik menyebarkan Islam yang ramah untuk orang-orang di luar golongan kita, bukan justru sebaliknya.

Pada akhirnya, sayapun tak bisa memaksa orang mempunyai pemikiran yang sama soal ini. Tapi sebelum mencaci, lebih baik kita membuka hati.

#SuroboyoWani

Thursday, April 12, 2018

Kece Sejak Lahir?




Jumat pekan lalu, saya menghadiri pertemuan klub diskusi di bilangan Cikini. Salah seorang senior yang waktu itu belum hadir mengirim pesan, "Ada cicitnya Tirto Adi Suryo yang mau ikut,"

Spontan saya berujar, wah Tirto Adi Suryo, idola saya tuh. Saat itu, di ruangan hanya ada tiga orang, saya dan senior lain serta mas-mas yang saya lupa namanya setelah berkenalan. Penyakit ini saya alami juga saat bertemu pertama kali dengan suami, wajah dan nama sama sekali tak ingat.

Mas-mas di ruangan itu  enak banget diajak ngobrol. Informasi yang saya tampung, dia dosen filsafat budaya di UNUSIA. S1 nya di ISIP dan UIN, pernah kuliah juga di Sadra. Sedangkan S2 nya di FIB UI, satu almamater tapi beda fakultas dan tahun masuk keluar. Lulus SMA tahun 2004, setahun di atas saya.

Kami bercerita tentang seteru Filsafat UI dan Filsafat UGM. Dia juga bercerita tentang teman-temannya di Pascasarjana yang tak bisa membedakan mana cultural studies mana studies of cultural. Dan dia mengaku orang cultural studies.

Sebagai orang kontruktivis, ini tentu menarik mempelajari pola pikir orang. Saya sempat berseloroh ketika dia ngobrol dengan mahasiswanya. "Eh di sini ga ada posisi dosen dan mahasiswa ya, sama aja," katanya

"Iya, mas," jawab mahasiswanya.

"Kelihatan ya, mana yang dominan mana yang sub waktu kalian ngobrol," ujar saya.

Menjelang pukul 6 sore, saya pamit menuju kampus. Dalam perjalanan, senior saya japri di WA. "Ndari, itu yang ngobrol sama kamu tadi namanya Okky Tirto, cucunya Tirto Adi Suryo,"

Ya Tuhan, kenapa si masnya bermuka lempeng saat saya antusias bilang kalau ngefans sama Tirto Adi Suryo? Langsung saya jelajahi google untuk mengetahui sepak terjangnya. Selain dosen, ternyata dia aktivis dan mantan wartawan serta pernah melakukan advokasi ke beberapa kelompok. Nama lengkapnya pun ternyata masih terlihat "ndoronya".

Sejatinya, saya tak terlalu berkesan dengan keturunan aristokrat namun saya terkesan dari segi pemikirannya. Dan entah kenapa para orang-orang kece itu kebanyakan terlahir dari keluarga yang kece juga?

Seorang teman di Tempo berhasil menulis berita kriminal tentang kasus pembunuhan Raafi Aga Winasya Benjamin secara lengkap dan utuh mulai dari kronologis detik per detik penusukan sampai siapa sosok Raffi dan pihak yang menusuknya. Padahal waktu itu,  sang teman masih Calon Reporter. Kece bukan. Siapa dia? Ananda Badudu yang ketika ditelusuri ternyata adalah cucunya JS Badudu yang pakar bahasa itu.

Teman kuliah waktu di Unair, waktu di kampus suka bisnis online shop dengan omzet yang lumayan sampai bisa foya-foya. Eh ternyata orang tuanya pebisnis sukses di kotanya.

Fenomena ini bukan satu-dua orang saya temui, tapi banyak banget. Istilahnya buah memang jatuh tak jauh dari pohonnya. Di sini saya percaya adanya faktor genetik yang membuat orang-orang itu kece dari lahir.

Ada satu yang penting, memang ada orang tua yang langsung beri modal nyoh duit nyoh nyoh kayak Bu Dendy tapi bukan berarti ke-kece-an mereka berasal  dari akses orang tua karena itu tak menjamin. Saya banyak menemukan orang tua kece tapi anak-anaknya biasa-biasa saja, malah ada yang underrate.

Kebanyakan kekecean mereka itu diturunkan dari pola pikir. Anak yang dibesarkan di lingkungan yang berpikiran terbuka, melihat orang tua menghasilkan karya baik benda terlihat atau pemikiran pasti akan terbiasa. Si anak belajar kebiasaan orang tuanya ini dari bayi lahir ceprot tanpa mereka sadari.

Misalnya Rain Chudori yang dibesarkan di ibu wartawan senior dan penulis novel pasti biasa dengan kegiatan menulis dan berdiskusi akhirnya dia menjadi penulis. Leila Chudori pun ternyata tak akan seperti sekarang bila bukan keturunan Muhammad Chudori, pendiri Jakarta Post.

Selain lingkungan yang membentuk juga akses. Dia akan terbiasa bertemu dengan teman-teman orang tuanya, yang otomatis teman orang tua menjadi teman mereka juga. Kalau pintar, di sini bisa memanfaatkan jaringan untuk mewujudkan 'mimpi-mimpi' mereka. Bukan KKN lho ya, tapi ini ngomongin trust.

Sisi ga enaknya, anak-anak yang punya orang tua kece adalah banyak orang SKSD dengannya biar bisa dikenalin ke orang tuanya. Dia juga harus siap bila orang lain dibanding-bandingkan dengan orang tuanya. "Kok ga sekeren bapaknya ya?" Berusaha tidak menjadi bayang-bayang padahal dia tak mendapatkan jaminan bakal berhasil, jatuh bangun juga saat meraih mimpi. Ini curhatan teman yang bapaknya kece, untungnya dia juga kece.

Lantas bagaimana dengan kita yang terlahir bukan dari golongan aristokrat karena keturunan, kekayaan, atau pola pikir? Ya artinya kita harus kerja keras berkali-kali lipat dibandingkan mereka sudah kece dari lahir. Bila yang 'kece dari lahir itu' mengeluarkan usaha 10 untuk sampai titik itu, kita harus lebih dan lebih.

Menulis ini bukan maksud menyesal lahir dari keluarga biasa. Oh tidak, saya bersyukur dilahirkan dari orang tua yang bekerja keras sebagai identitas. Kerja keras dan ikhlas, nerima ing pandum. Tiga pekan yang lalu Bapak kecelakaan waktu nukang. Nadinya kena girindra sampai dibawa ke rumah sakit. Eh sepekan kemudian udah balik nukang lagi.

Saya baru tahu dua pekan setelah kejadian karena memang bapak menolak cerita biar ga kepikiran. "Emang duit pensiunan (PNS) kurang, kenapa dipaksain kerja lagi?" tanya saya.

"Engga, malah lebih. Kemarin baru beli motor cash. Mau utang tha? Tabunganku lho banyak," pamer.  Ih, menyebalkan.

Suami saya membela, "Biasa pensiunan, ga apa apa, nanti kalau kita tua juga bakal kayak gitu, cari kerjaan buat ngisi waktu."

Balik lagi ke unsur keturunan, kami sepakat untuk membangun diri sebagai orang yang kece meski tidak dari lahir. Kalau dari kekayaan dan kemahsyuran belum sampai, mungkin dari pemikiran terlebih dahulu. Berusaha menempa diri menjadi semakin baik. Banyak belajar, banyak bertemu dengan orang-orang baru, berdoa.

Kelak kalau Tuhan sudah menitipkan buah hati ke kami, saya harap mereka terlahir sebagai anak-anak yang kece dari lahir. Dari lahir, sudah keren. Amin.


Sumber foto: Lil Rascal